Mendekap Rasa

25 Januari 2013 § 2 Komentar

Setelah gue berkicau-kicau dari bulan Oktober. Akhirnya, setelah mengalami perjalanan ngedit dan revisi yang hore banget, tadi gue dan Iif nerima kover untuk novel baru kami. Beberapa mungkin sudah familiar dengan Michael Ararya Abimanyu dan Carissa Purnadiredja, jadi, inilah kisah mereka berdua dalam ‘Mendekap Rasa‘.

cover depan-mendekap rasa

 

 

Sinopsis kover belakang:

“Pernahkah kau menghitung perpisahan yang telah terlewati? Dan, pernahkah kau berpikir, mungkin perpisahan terkadang memang diharapkan terjadi….”

Mungkin, kau akan ragu ketika cinta yang kau dapatkan masih separuh hati ketika kau terima. Ke mana pun kau pergi, masa lalu akan menjadi kepingan cerita yang mengusik dan menganggu perasaanmu.

Sementara aku, kuingin berakhir bersama pria yang kucintai. Aku akan membuat dia mencintaiku. Tidak peduli harus menunggu berapa lama.

Masa lalu tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bahagia, bukan?

– Mendekap Rasa oleh Aditia Yudis & Ifnur Hikmah, Bukune, Februari 2013

 

Project 24

1 Oktober 2012 § 4 Komentar

image

Dalam rangka hari lahir, aku meminta beberapa orang teman baik, dekat,  sahabat, dan yang menginspirasiku untuk menyumbang sebuah judul tulisan kepadaku. Terinspirasi dari Ifnur (@iiphche) yang membuat proyek pribadi ‘Going 23’, maka aku mengikuti jejaknya untuk membuat proyek pribadi yang sama.  Judul-judul yang diberikan nantinya akan dikembangkan menjadi cerita pendek atau flash fiction. Sebab setiap judul itu istimewa, maka aku juga akan berusaha menulis sespesial mungkin. Tulisan-tulisan tersebut rencananya akan dibukukan sebagai hadiah hari lahir buatku sendiri. Terima kasih untuk semuanya yang sudah berkenan memberikan judul tulisan. 🙂

The Project 24:

1. Satu Rindu Sehari – Ratna Rara

2. Setelah Dua Musim Berlalu – Netty Virgiantini

3. Tiga Rahasia – Ratih Desiana

4. Segi Empat Hati Aditia – Indah Lestari

5. Penantian Lima Tahun – Ardian Yunus

6. Kutukan ke-6 – Danis Syamra

7. Sepeda Nomor 7 – Nur Idzni

8. Delapan Jam antara Kita, Sergei Rachmaninoff, dan St. Petersburg – Ifnur Hikmah

9. IX – Wangi MS

10. Sepuluh Menit Menahan Jinjit – Ragil Satrio

11. Sebelas Sebelum Sebelah – Momo DM

12. 12 Mimpi – Ristina Mirwati

13. 13 Hari Baik Bersamamu – Taufan Gio

14. Bulan ke-14 – Nur Izzatil

15. Jejak Cinta di Bukit 15 – Agus Musriana

16. 16 Helai Rambut Ibu – Panji Agdiwijaya

17. 17 Terumbu Karang – Dian Ekamayasari

18. 18 pada 2006 – Yosua Kaunang

19. 19/100 – Dwi Raharjo

20. 20 Pohon Cinta yang Kutanam untukmu – Rahmat Akbarsyah

21. Jarak 21 Tahun – Arga Pandiwijaya

22. 22 Janji – Rina Wijayanti

23. Nomor Punggung 23 – Syafitri Hidayati

24. 24 Kesalahan Mencintai Satu Orang Saja – Novita Syari

Nb: kalau ada kesalahan nulis nama dan judul bilang ya. ^^

Bogor, 1 Oktober 2012

Review: Architecture 101

22 September 2012 § 5 Komentar

Setelah sekian lama akhirnya gue tergerak untuk bikin review lagi. Bahkan dengan susah payah (karena gue ngetik pakai tab yang sering typo), gue tetep bela-belain ngetik review. Kali ini reviewnya istimewa, karena biasanya gue ngereview buku (tapi udah lama nggak), sekarang gue akan ngereview film yang baru gue tonton semalem. Film yang sangat istimewa sebab film tersebut adalah film Korea pertama yang gue tonton di bioskop.

Oke cukup basa-basinya. Judul filmnya adalah Architecture 101. Hiyaa, yap, judulnya adalah pemikat utama gue untuk bela-belain nonton film ini meski masuk angin dan mengarungi perjalanan Bogor – Jakarta yang penuh cobaan.

*peringatan: banyak spoiler*

Film ini bertema utama cinta, dengan sentuhan arsitektur sebagai pengikat keseluruhan cerita. Berkisah tentang seorang arsitek, Seung-min dan kliennya, Seo-yeon (lihat di sini untuk tahu siapa aja pemainnya). Seo-yeon meminta Seung-min untuk mengerjakan rumahnya di Pulau Jeju. Dulunya mereka adalah teman di kelas Pengantar Arsitektur (Architecture 101). Sebagai catatan: Seung-min adalah mahasiswa jurusan Arsitektur sedangkan Seo-yeon adalah mahasiswa jurusan musik. Yuk lanjutkan ke kuliah Architecture 101.

« Read the rest of this entry »

The Coffee Shop Chronicles

7 Mei 2012 § 6 Komentar

 

Because every sip of your coffee keeps secret!

Dimulai dari sepucuk surat pendek dari seorang pengagum kepada Tuan Arsitek yang ditulis oleh @firah_39. Surat yang membuat sebuah flashfict balasan dikarang untuk menanggapi surat tersebut oleh @adit_adit. Selanjutnya, beberapa penulis lain, @_raraa, @WangiMS, dan @hildabika ikut bergabung menulis flashfict berantai yang menyertakan latar yang sama dan interaksi dengan tokoh-tokoh yang sebelumnya ada.

Kemudian tanpa disangka-sangka lewat medium twitter, lebih banyak yang ikut menyambar cerita-cerita tersebut dari sudut pandang masing-masing. Akhirnya melihat antusiasme teman-teman, secara resmi judul tersebut dihanyutkan ke linimasa dan diberikan tenggat waktu pengumpulan flash fict. Pada akhirnya dalam dua hari, 33 cerita singkat dari 22 penulis muda pun terkumpul.

Setelah dua hari itu pun, masih banyak teman lain yang ikut membuat cerita berdasarkan kisah-kisah dalam coffee shop tersebut. Beberapa di antaranya dimasukkan sebagai cerita tambahan dalam antologi coffee shop versi terbaru. Bisa dibilang buku antologi ini adalah proyek iseng. Selama dua minggu setelah pengumpulan naskah, tim kecil dari coffee shop mengolah naskah ini dan menghadirkannya dalam bentuk buku.

Keajaiban sudut pandang. Hal tersebut menjadi tema besar dalam cerita ini. Beberapa mata bisa melihat hal yang sama, tapi persepsi yang dihasilkan pasti berbeda. Maka, kami meminta setiap orang untuk menulis dari sudut pandang masing-masing untuk mengisahkan sebuah coffee shop. Bahwa setiap sudut pandang itu istimewa.

Satu mata terlalu sempit untuk melihat dunia. Buka mata dan temukan kekayaan cerita di sini.

Selamat melihat!


About this book:

I really enjoyed every part of the story in The Coffe Shop Chronicles. The fact that the coffe shop is in Jogja and the owner was Indian woman… very unique, and I love it a lot! 🙂
Isabella Fawzi, Reporter dan Presenter Global TV @BellaFawzi
Super WOW! Ini buku pertama yang membuat saya iri kenapa sebelumnya saya tidak pernah terpikir untuk membuatnya. Haha! Must read. I guarantee.
Lala Purwono ~ Author of Girl Talk, Curhat Kelana, The Blings of My Life, and A Million Dollar Question (duet with Ryu Deka)
The Coffee Shop Chronicles itu KEREN!! 21 penulis dan benang merahnya dapet banget. Saya seperti tersedot masuk dalam cerita tersebut dan penasaran dengan kisah selanjutnya.
Nurul Aria, Fisioterapis – Blogger@rulachubby

Bersiaplah mengalami guncangan bathin ketika membaca flashfict ini. Ada saja kisah yang akan membuat Anda tertawa, cemberut, bahkan merasa tersindir.
Doni Yusri, Ph.D Student of University of Goettingen, Germany

Coming soon on May! 

Edited on October 2012:

Buku ini sudah terbit dan bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat sekarang juga. Harga buku The Coffee Shop Chronicles adalah Rp. 35.000,-. Pengalaman yang sudah-sudah, buku ini di Gramedia sering diletakkan di rak pengembangan diri (mungkin karena judulnya yang kopi-kopi gitu kali ya, haha).

So, beberapa hari yang lalu Mbak Wangi minta untuk dibuatkan trailer baru dari The Coffee Shop Chronicles. Yang kedua ini beda konsep dengan yang pertama, kalau di yang pertama aku menampilkan kutipan-kutipan dari cerita-ceritanya, sekarang aku tampilkan siapa saja sih yang terlibat dalam The Coffee Shop Chronicles? Ya nggak semua sih, tapi cukup untuk membayangkan beberapa karakter di sana.

The Coffee Shop Chronicles [Book trailer 1]

The Coffee Shop Chronicles [Book trailer 2]

Bukik Bertanya: Pahlawan Drama

6 Januari 2012 § 23 Komentar


Tentang nama dan siapa saya

Beberapa orang mengenal saya sebagai penulis. Sebagian lagi tahu sekali saya sebagai mahasiswa Kehutanan. Lainnya mungkin hanya kenal saya sebagai teman sekelas mereka dan anak dari orang tua saya. Kategori tersebut akan mudah dibedakan lewat nama-nama panggilan saya.

Saya lahir menyandang nama Aditia Yudis Puspitasari. Nama tengah saya diberikan karena saya lahir ketika ayah saya diyudisium. Namun saya sendiri secara pribadi sering merujuk nama ‘Aditia’ dan ‘Yudis’ kepada dua tokoh pahlawan dari epos Mahabharata—biar keren dan dramatis gitu filosofinya— yang jika dirangkai filosofinya menjadi ‘matahari yang jujur’. Kebiasaan saya yang hanya menulis nama depan dan tengah saya, membuat saya sering disangka laki-laki. Akan tetapi, nama itulah yang kemudian saya pilih menjadi nama pena—yang pada akhirnya sering membuat orang-orang kaget karena mengira saya ganteng (dari nama), eh ternyata waktu ketemu cantik orangnya, hehehe.

Panggilan ‘Adit’ melekat pada saya sejak lima tahun lalu, ketika saya bergabung di jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata angkatan 43. Sejak saat itu saya selalu mengenalkan diri menggunakan nama itu dan membuat nama kecil saya ‘Tia’ pun pelan-pelan tenggelam.
« Read the rest of this entry »

Once Upon A Love

11 Oktober 2011 § 19 Komentar

Tak ada yang bisa melakukan sebaik dirimu.

Pertahananku begitu rapuh akan pesonamu. Potongan-potongan kejadian indah berlompatan, menyesaki benakku dengan imaji dirimu; dari caramu membuatku tersipu, tatapan dalam langsung ke arahku, sampai kata-kata manis yang kuingat selalu.

Merindukanmu membuatku sempat lupa kenapa aku harus melupakanmu. Kau cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kekasih yang tak pernah kumiliki. Kau memori yang harusnya kusimpan di dalam kotak dan kubuang jauh-jauh….

Dan di suatu hari tak terduga itu, aku tersenyum dan menangis pilu karena dirimu.

Terlambat

18 Agustus 2011 § 1 Komentar

Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.

Sayangnya, terlambat kadang menyisakan perasaan lebih tidak menyenangkan dibandingkan tidak sama sekali. Walaupun keduanya sama-sama menghasilkan satu kerak rasa yang sama: penyesalan.

Ah, aku selalu berharap penyesalan bisa muncul di depan. Sebab menyesal di belakang tak pernah ada enak-enaknya.

Dan aku menyesal…. Terlambat lulus—terseok-seok dan berlari ngebut dengan tenggang waktu sebelum di DO dari kampus untuk menyelesaikan skripsi. Tapi, sesungguhnya bukan itu yang aku sesali karena semua itu terbayar dengan pengalaman-pengalaman. Melihat satu persatu sahabat yang dicinta berterbangan mengejar mimpinya ke ujung-ujung dunia. Tersenyum haru dan meringis miris bersamaan, perasaan yang menyakitkan tapi menimbulkan adiksi secara bersamaan. Ya, yang kusesali adalah suatu hari ketika aku melihatmu keluar dari gedung biru itu—berbalut busana kebesaran penobatan akhir masa mahasiswa, begitu gagah yang sayangnya tanpa aku. Aku ada di luar, menunggumu dengan sebuket bunga di genggaman tangan dan penyesalan yang tertumpah di seluruh diri tanpa bisa kamu lihat. Tentu aku memberikan senyum terbaik untukmu, namun melihatmu begitu bahagia tidak juga bisa menghapus penyesalan—satu penyesalan terdalam yang pernah kurasakan—karena tidak bisa bersanding dalam busana yang sama bersamamu.
« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the School of Life category at Hero of The Drama.