elevator.

15 Oktober 2015 § Tinggalkan komentar

Sebagian perangkat cerita aku pinjam dari anime Code Geass. Bisa dibaca tanpa harus mengerti Code Geass kok dan nggak ada spoiler-nya. Inspirasi ceritanya dari Iif yang nyodorin lagu Elevator-nya Jonghyun buar didengerin. 


Perpisahan itu diawali dengan sebuah ciuman. Milly tahu saat bibir mereka berpisah—tak perlu ada sepatah kata lagi. Kakinya bergerak, dia memutar tubuh, memunggungi lelaki itu. Dia tak mau memandang matanya terlalu lama, atau dia akan tertinggal elevator yang siap membawanya pergi.

Milly melangkah ke dalam lift yang kosong dengan wajah tertunduk. Dia melangkah sampai ke sudut. Kedua matanya terpejam, namun bayangan pertemuan tadi tak mau lesap. Perih itu mengerubungi matanya, mendesak untuk mencurahkan air yang tertahan di sana. Kepalanya tengadah. Dia menelan ludah. Jejak mint dari bibir pria itu masih tersisa di ujung lidah. « Read the rest of this entry »

Iklan

Kumpulan Cerita ‘Semoga Hujan Turun Tepat Waktu’

13 Oktober 2015 § 1 Komentar

20150929_155104

Semoga Hujan Turun Tepat Waktu yang menjadi judul kumpulan cerita pendek ini merupakan salah satu judul yang ada di dalam bukunya. Aku menulis cerita pendek itu beberapa bulan lalu untuk seorang teman dekat dan sempat menerbitkannya di blog ini. Kisahnya sederhana saja, seorang perempuan yang terjebak di bus dan nyaris terlambat. Di tengah keresahannya ada seorang lelaki yang membawa buket lavendel duduk di sebelahnya dan menanyakan apakah hari itu hujan akan turun.

Cerita tersebut menjadi satu dari 15 cerita yang kupersembahkan dalam buku ini. Dibuka dengan cerita ‘Imajinasi Tanpa Rumina‘ yang belum pernah kurilis di blog ini dan hanya ada di buku utama proyek menulis Kasih Tak Sampai dari Nulisbuku. « Read the rest of this entry »

hujan untukmu

31 Juli 2015 § Tinggalkan komentar

“Apa yang ingin kau dapatkan di hari ulang tahunmu?”

“Hujan.”

Jawabannya jelas di tengah lagu pop mendayu yang meluncur dari pengeras suara. Langkah kaki kami pun tak berhenti, menyusuri lorong yang kanan dan kirinya penuh warna. Bukan pelangi. Bukan gemerlap gemintang.

Dan kamu berhenti.

Permintaanmu tidak mustahil. Hanya saja, langit sendiri mogok berbagi air sejak dua bulan lalu. Pengamat bilang, kondisi ini akan bertahan hingga September.

Hari ini, baru di penghujung Juli. « Read the rest of this entry »

matahari yang terbit di matanya

14 Juli 2015 § Tinggalkan komentar

Aku pernah melihat matahari terbit dari matanya. Hangat dan berkilauan. Seperti halnya aku yang sering menunggu matahari betulan muncul. Duduk dengan segelas susu panas sesudah azan subuh. Menghadap timur, bertatap-tatapan dengan Venus, sambil mulai menghitung larik cahaya yang hadir. Saat itu ketika dunia paling damai. Tak ada yang memburumu. Tak ada yang menghakimi keputusanmu.

“Ketika aku menuju ke sini, matahari ada di atas kepalaku. Secerah kulit lemon,” katanya, berdiri tegap sementara pengunjung di taman pemakaman ini berlarian menghindari tetes air.

Pandanganku terpaku pada nisan. Badan marmernya bersih, seolah baru ditanam kemarin. Air yang jatuh membersihkan permukaannya. Tapi tak ada butiran air yang sampai ke kepalaku, payung merah yang kugenggam akan jadi pelindung.

“Kamu datang ke sini dan mendung bergulung-gulung. Bayang-bayang menghilang. Dan sekarang…,” ujarnya lagi, menyeka air dari wajahnya. “Kamu seperti Putri Hujan yang menyimpan gerimis dalam keranjangmu.”

Laki-laki di sampingku, tubuhnya terbalut mantel gelap dan syal tebal melingkari lehernya. Dia tahu hujan akan turun bila kami bertemu.

“Aku pernah melewati dua bulan di tempat yang sama sekali tak turun hujan. Jadi argumenmu tidak valid, Oscar.”

“Karena di sana kamu bahagia. Karena tidak ada yang membebankanmu atas kematian ayahmu.”

Tubuhku menegang. “Kamu tidak seharusnya datang ke sini,” kataku tegas. Di samping sebuket lily yang kubawa, sudah lebih dulu ada lavendel pemberian Oscar tergeletak di sana.

“Aku hanya memenuhi janjiku kepadamu, Ava. Aku tidak akan pernah meninggalkamu.”

Pandangan kami beradu. Banyak yang bilang mata hijau birunya persis sama dengan milikku. Rambutnya yang cokelat terang, kini menggelap karena mulai basah.

“Kamu berjanji tak akan menemuiku lagi.”

“Aku berjanji padanya.” Oscar menunjuk nisan. Ekspresi wajahnya menegas. “Bukan padamu. Dan aku tak pernah menemuimu, meski aku bisa saja tiba-tiba muncul di depan flatmu. Tak seorang pun akan curiga jika aku melakukan itu.”

Aku menghela napas. Mengamati matanya yang teduh. Mengapa kita tidak bersama?

“Ayah meninggal karena aku mencintaimu.” Hari itu masih teringat jelas dalam ingatanku. Kakinya terjulur, melayang di atas lantai. Sebuah tali diikatkan di kasau. Aku memejamkan mataku sekarang. Tak sanggup mengenang muka ayah.

“Dia membunuh dirinya sendiri karena ingin kita tak akan pernah melupakannya, Ava.”

Aku menelan ludah. Tubuhku menggigil. “Dia membencimu, Oscar.”

“Tentu saja dia membenciku karena aku gagal menjaga adik perempuanku sendiri dan malah jatuh cinta kepadanya?” Tatapannya menyengit dan kata-katanya dilontarkan sungguh nyelekit. “Pernahkah kamu menyadari mengapa dia memilih mati? Bukan perihal dosa, Ava. Bukan. Melainkan dia sungguh membenci dan mencintai kita. Satu-satunya jalan agar kita bisa bersama adalah lewat kematiannya.”

Semua itu seperti sesuatu yang sudah lama dipendamnya dan sekarang harus meluap. Pandangan matanya terluka. Mustahil matahari akan terbit dari sana. Justru sekarang aku menemukan senja, matahari yang merangkak untuk sembunyi. Dia bilang mencintaiku, namun selalu ada pilu menyertai di kedua matanya.

Itulah mengapa aku selalu pergi membawa hujan. Aku ingin mengingat pahit lewat matanya. Mengenang kesalahan yang kami perbuat berdua. Sebab, momen ketika aku jatuh cinta selalu bermula saat aku mendapati matahari terbit di matanya.

(478 kata)

Akur kembali dengan naskah yang lama ditinggalkan

4 Juli 2015 § 2 Komentar

Seringkali setelah menyelesaikan satu naskah, masih ada jalan yang panjang untuk diterbitkan. Kadang-kadang harus menunggu hingga beberapa bulan atau tahun. Tidak jarang ketika harus kembali lagi ke naskah untuk proses revisi setelah sekian lama, rasanya sulit sekali akrab lagi.

Bukan hanya jeda ketika menanti naskah diproses menjadi buku, jeda di tengah proses penulisan pun bisa berefek menjauhkan. Sehari menjadi seminggu, seminggu menjadi sebulan, sebulan menjadi tiga bulan, akhirnya setahun naskah itu terkatung-katung tanpa disentuh. Sewaktu harus kembali untuk mengerjakan, ada perasaan canggung, seperti halnya dua teman yang lama tak jumpa. Kehilangan perasaan senasib, sepenanggungan yang dulu dijalani bersama. Kehilangan kesenangan, antusias, dan rasa jatuh cinta pada karakter-karakter serta ceritanya.

Aku sendiri pernah mengalami hal itu, lebih tepatnya sering. Pengalamanku saat mengerjakan novel Time After Time, dari menulis draf satu hingga terbit memakan waktu hampir dua tahun. Di antara jedanya aku sempat mengerjakan naskah-naskah lain dan meski sempat kabur-kabur dari Time After Time, aku selalu mengerahkan diri untuk kembali. Tidak mudah memang mengembalikan momen yang sama ketika mengerjakan di awal-awal setelah lama meninggalkan, tapi kewajiban yang harus dipenuhi membuat aku tidak menyerah untuk mencoba akur kembali. #aseeek « Read the rest of this entry »

Arcadia & Hadrian: Yang lebih biru dibanding lautan

30 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: Pertemukan aku dengan ombak (bagian 29/terakhir)

the master

citra dari adegan pembuka di film the master.

Apa yang lebih biru dibanding lautan?

Pertanyaan itu menghampiriku saat mencoba menghitung buih yang pecah. Aku mulai membilangnya saat berdiri di buritan kapal–semua hanya biru, putih, biru muda, laut, ombak, dan buih. Kubiarkan rambutku diterbangkan angin. Aku senang berada di sini. Tak ada penyesalan ketika aku memutuskan untuk berkunjung.

“Nona.” Seorang pria tersenyum sopan dan berdiri berjarak denganku. Dia tersenyum. “Rambut Anda sangat indah,” pujinya, menatapku hormat.

Aku mengembangkan senyum malu-malu. “Terima kasih.”

Dia terdiam sejenak, lalu pamit kepadaku. Pria itu menyeberangi buritan, menuju selasar di bagian kiri kapal. Saat itulah, aku mengingat lagi tujuanku ke sini. Sosok yang berdiri di tepi pagar teras itu menyita perhatianku. Sejak tadi dia berada di sana, dilewati orang-orang dan tak ada yang berhenti menyapanya. Kehadirannya mungkin tak terdeteksi, atau orang-orang memang tak punya alasan apa pun untuk menghampirinya.

Belum lama sejak pertemuan kami di toko buku. Aku datang lagi ke tempat itu tapi tak pernah menemukannya lagi. Aku yang belum pernah melintas menuju masa depan pun melakukannya, untuk tahu apakah benar yang dikatakannya bahwa kami akan bertemu lagi. Agak sulit untuk menemukannya sebab aku hanya tahu namanya saja. Aku mengunjungi banyak masa depan yang mungkin terjadi, seringkali kembali dengan tagan kosong dan di sinilah, akhirnya aku menemukannya. « Read the rest of this entry »

Arcadia & Hadrian: Pertemukan aku dengan ombak

29 Juni 2015 § Tinggalkan komentar

Cerita sebelumnya: terlalu banyak (bagian 28)


Divus hanya mematung ketika pedang yang digunakan perempuan berambut merah itu menusuk tubuh Hadrian. Tidak mengenai bagian vital, tapi bisa saja dia mati kehabisan darah. Divus mengelus kepala Biru, menenangkan kucing besar itu, jika ini bukan pertarungan mereka. Hadrian jatuh ke air, tubuhnya tenggelam, hanya kepalanya yang muncul di permukaan. Betapa pun sakitnya itu, sama sekali tidak membuat Hadrian bersuara. Perempuan itu menekan pedang itu, memuntirnya, hingga menembus tubuh lawannya.

Senja semakin merah. Permukaan di sekitar mereka berombak kecil. Kelompok-kelompok burung terbang dengan tergesa-gesa. Divus tetap berdiri di posisinya. Perempuan itu menarik pedangnya dan mengacungkannya ke udara. Darah mengaliri permukaannya yang berkilauan, menetes satu demi satu ke air danau yang beriak. Tawa perempuan itu meluncur ke udara. Matanya nyalang pada Hadrian yang masih berusaha berdiri.

“Aku akan membunuhmu pelan-pelan, Hadrian,” ujarnya, menghunjamkan sekali lagi pedang itu kepada Hadrian yang belum berdiri tegak.

Sebelum ujung lancip pedang itu menyentuh tubuh Hadrian, Divus bersama Smilodon dan Biru menghilang lewat sebuah pintu yang muncul di belakang mereka. Tak ada gunanya campur tangan pada masalah itu.

** « Read the rest of this entry »