Stars on Your Cupcakes
Agustus 29th, 2011 § 29 Komentar

Senin
Cupcake dalam kotak plastik bening itu menjadi pemandangan paling manis di atas meja kerja tersebut. Tumpukan kertas hasil cetakan, mug besar berisi kopi, laptop yang menyala dan komputer yang juga tampak bekerja. Namun pemilik meja itu tampak sibuk mengedarkan pandangannya dari laptop menuju layar komputernya, berpindah-pindah seperti menonton pertandingan tenis.
Perutnya yang berontak kelaparannya membuatnya terdiam sejenak, matanya bergerak pada kotak bingkisan itu. Tanpa ragu lagi Arsa meraihnya, menatap cupcake berlapis cokelat dengan hiasan empat titik cokelat putih di permukaannya.
Arsa mengambil cupcake itu dan mengigitnya sedikit. Rasa manis mengaliri lidahnya bersamaan dengan bayangan seorang perempuan riang teman baiknya, Keira. Meskipun cupcake ini didapatkan Arsa dari Adam—rekan sekerjanya yang mengaku dititipkan seseorang dan tak mau bilang itu siapa—Arsa jelas tahu kejutan itu dari Keira. Perempuan itu sering tiba-tiba muncul dengan ‘kejutan-kejutan’ kecil yang tak Arsa sangka.
Kali ini cupcake. Sebuah cupcake.
Sebuah kartu tertinggal di dasar kotak, Arsa mengeluarkan kartu itu dan membacanya masih sambil mengunyah cupcake itu.
Indus.
Itu satu-satunya kata yang tertulis di kartu berwarna putih dengan sisi depan bergambar bulan dan bintang keperakan.
« Read the rest of this entry »
Once Upon A Love
Oktober 11th, 2011 § 17 Komentar

Tak ada yang bisa melakukan sebaik dirimu.
Pertahananku begitu rapuh akan pesonamu. Potongan-potongan kejadian indah berlompatan, menyesaki benakku dengan imaji dirimu; dari caramu membuatku tersipu, tatapan dalam langsung ke arahku, sampai kata-kata manis yang kuingat selalu.
Merindukanmu membuatku sempat lupa kenapa aku harus melupakanmu. Kau cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kekasih yang tak pernah kumiliki. Kau memori yang harusnya kusimpan di dalam kotak dan kubuang jauh-jauh….
Dan di suatu hari tak terduga itu, aku tersenyum dan menangis pilu karena dirimu.
Bittersweet Love
Februari 15th, 2012 § 3 Komentar
Merindukanmu adalah satu-satunya kata yang dapat menggambarkan rasa ini. Dan semuanya dimulai sejak aku kehilanganmu.
Ketika waktu membawakan pilihan-pilihan lain untukku, langkahku masih terbelit oleh ingatan tentangmu. Kasih sayang yang seluruhnya milikku pun harus terbagi. Bahkan, rumah tak lagi menjadi tujuanku untuk pulang.
Kini aku menyadari bahwa semua sudah berganti dan yang bisa kulakukan hanyalah menghadapi. Semua yang telah lewat tak mungkin bisa kembali.
Apa yang kupikir lenyap, nyatanya tertutup emosi. Butuh waktu untuk belajar mencintai lagi. Dengan penuh keyakinan diri aku melakukannya.
Menerima. Cinta sesederhana itu saja.
—-
Bittersweet Love. Novella duet dari Netty Virgiantini dan Aditia Yudis. Sebuah drama keluarga yang menyentuh tentang persaudaraan dan pernikahan kedua. Terbit bulan Februari 2012.
—-
Singgah
Mei 12th, 2012 § 4 Komentar
Dia selalu menungguku, bahkan membumbuinya dengan rindu.
27 Mei 1999
“Aku numpang singgah,” sapaku bersahabat.
Dia mencibir. Dunia menghormatiku, namun dia memilih angkuh. Jelas jika akulah yang terlahir lebih dulu, sedangkan umurnya masih seujung kuku. Maka aku memilih bersikap tenang bersama khidmatnya hening di antara kami.
“Tahukah kamu? Di sana mereka membayar mahal untuk ketenangan seperti ini….”
“Tenang? Sepi? Membayar?” Dia tertawa kencang. “Di sini kesunyian absolut yang menemaniku. Kesepian dan ketenangan yang berbanding lurus. Rasa-rasanya aku ingin tidur saja selamanya….”
“Bahkan mereka membayar dengan amat sangat mahal untuk datang ke tempat ini.”
“Gila! Tak ada apa-apa di sini!”
Gantian aku yang terkekeh.
“Demi bintang-bintang yang meledak! Di sini hanya ada batu dan gas! Kegelapan sepanjang arah pandang. Apa yang mereka cari?” katanya agak sedikit kesal.
Tawaku terhenti. Aku melayangkan pandangan sejauh aku bisa melihat. Memang benar apa yang lawan bicaraku katakan. Baginya ini adalah keseharian, banyak yang bisa dilihat. Sayangnya mereka semua bisu, di sini cahaya adalah satu-satunya cara untuk berkomunikasi. Sedangkan untuk mereka, semua ini adalah sesuatu yang di luar rutinitas, yang mereka sebut luar biasa.
“Pengalaman. Tidak semua manusia bisa menjejakkan kaki di stasiun ini….”
“Jangan sungkan menyebut aku sebagai stasiun. Aku memang stasiun.”
“Oke… Stasiun.”
Dia membuat ekspresi yang kuartikan sebagai senyuman. Pada perjalanan pulang aku menyadari, dia tak suka, tapi dia membiarkanku singgah.
The Coffee Shop Chronicles
Mei 7th, 2012 § 3 Komentar
Because every sip of your coffee keeps secret!
Dimulai dari sepucuk surat pendek dari seorang pengagum kepada Tuan Arsitek yang ditulis oleh @firah_39. Surat yang membuat sebuah flashfict balasan dikarang untuk menanggapi surat tersebut oleh @adit_adit. Selanjutnya, beberapa penulis lain, @_raraa, @WangiMS, dan @hildabika ikut bergabung menulis flashfict berantai yang menyertakan latar yang sama dan interaksi dengan tokoh-tokoh yang sebelumnya ada.
Kemudian tanpa disangka-sangka lewat medium twitter, lebih banyak yang ikut menyambar cerita-cerita tersebut dari sudut pandang masing-masing. Akhirnya melihat antusiasme teman-teman, secara resmi judul tersebut dihanyutkan ke linimasa dan diberikan tenggat waktu pengumpulan flash fict. Pada akhirnya dalam dua hari, 33 cerita singkat dari 22 penulis muda pun terkumpul.
Setelah dua hari itu pun, masih banyak teman lain yang ikut membuat cerita berdasarkan kisah-kisah dalam coffee shop tersebut. Beberapa di antaranya dimasukkan sebagai cerita tambahan dalam antologi coffee shop versi terbaru. Bisa dibilang buku antologi ini adalah proyek iseng. Selama dua minggu setelah pengumpulan naskah, tim kecil dari coffee shop mengolah naskah ini dan menghadirkannya dalam bentuk buku.
Keajaiban sudut pandang. Hal tersebut menjadi tema besar dalam cerita ini. Beberapa mata bisa melihat hal yang sama, tapi persepsi yang dihasilkan pasti berbeda. Maka, kami meminta setiap orang untuk menulis dari sudut pandang masing-masing untuk mengisahkan sebuah coffee shop. Bahwa setiap sudut pandang itu istimewa.
Satu mata terlalu sempit untuk melihat dunia. Buka mata dan temukan kekayaan cerita di sini.
Selamat melihat!
About this book:
I really enjoyed every part of the story in The Coffe Shop Chronicles. The fact that the coffe shop is in Jogja and the owner was Indian woman… very unique, and I love it a lot! ![]()
Isabella Fawzi, Reporter dan Presenter Global TV @BellaFawzi
Super WOW! Ini buku pertama yang membuat saya iri kenapa sebelumnya saya tidak pernah terpikir untuk membuatnya. Haha! Must read. I guarantee.
Lala Purwono ~ Author of Girl Talk, Curhat Kelana, The Blings of My Life, and A Million Dollar Question (duet with Ryu Deka)
The Coffee Shop Chronicles itu KEREN!! 21 penulis dan benang merahnya dapet banget. Saya seperti tersedot masuk dalam cerita tersebut dan penasaran dengan kisah selanjutnya.
Nurul Aria, Fisioterapis – Blogger@rulachubby
Bersiaplah mengalami guncangan bathin ketika membaca flashfict ini. Ada saja kisah yang akan membuat Anda tertawa, cemberut, bahkan merasa tersindir.
Doni Yusri, Ph.D Student of University of Goettingen, Germany
Coming soon on May!
Di Sini
April 29th, 2012 § 1 Komentar
![]()
Aku tidak ke mana pun. Tak ada penerbangan yang harus kukejar. Tak ada pertemuan di London yang harus kuhadiri.
Bahkan sepagi ini aku menyetir sendiri, ke tempat ini yang dulunya sering kusinggahi. Kubiarkan air mata jatuh mengaliri pipiku. Sementara aku mengeluarkan mobilku dari komplek apartemen itu. Perasaanku yang tidak karuan membawaku sampai ke halaman rumah bercat putih gading itu.
Rumah itu sepi. Kosong tak berpenghuni tapi penuh bayanganmu di mana-mana.
*
Aku tidak ke mana pun. Seharusnya aku yang kemarin diguyur air kembang setaman. Dengan untaian bunga melati yang menghiasi rambutku. Aku yang bersimpuh di depan paman bibi pengganti ayah ibuku yang sudah tiada.
« Read the rest of this entry »
Pilihan
April 28th, 2012 § 2 Komentar

gift box
Selama sedetik aku terperangah. Bahkan aku masih diam ketika perempuan itu menyapaku dengan ramah.
“Nares, bisa aku bertemu Mike?”
Kukedipkan mataku. Senyum perempuan itu terhampar di wajahnya—mungkin palsu, tapi setidaknya ia sudah berusaha.
“Apa aku terlambat? Dia sudah berangkat ke Menteng?” tanyanya sekali lagi.
“Res, siapa? Arga ya?” Kudengar suara lain memanggilku dari dapur.
Sekali lagi perempuan itu tersenyum. Sesaat mataku tertumbuk pada kotak berpita di tangannya.
“Abangnya ada kok, Mbak, masuk dulu aja,” ujarku yang langsung kusambung dengan memanggil Abang—dia yang tadi bertanya padaku dari dapur.
“Enggak usah. Aku gak lama kok. Aku harus ngejar flight.”
“Sia—” Pertanyaan abang terputus di tengah. Aku menoleh padanya yang berdiri diam seraya menatap sosok di belakangku.
“Pagi, Mike.” Kali ini Amelia menyapa Mike lembut.
*
Cheesecake
April 27th, 2012 § 7 Komentar

cheesecake
“Aku akan pulang….”
*
Tawanya berderai. Kusapukan sapu tangan itu ke tepian bibirnya yang dikotori oleh noda karamel. Sementara itu dia terus menyendok cheesecake buatanku ke mulutnya. Aku tak bisa menahan senyumku yang melebar di wajahku. Apalagi yang membuatmu lebih bahagia dibandingkan melihat seseorang yang kamu cintai tertawa selepas itu?
Sekali lagi tawanya berurai makin keras. Tubuhnya terguncang-guncang di sampingku, kini dengan potongan cheesecake yang baru. Tidak, ia tidak menertawakanku, seluruh perhatiannya tersedot oleh acara komedi yang ada di layar televisi. Tubuh kami berdampingan rapat di sofa itu. Ia menyuapkan lagi satu potongan cheesecake ke mulutnya. Mengamatinya menyendok cheesecake itu dengan hati-hati, lalu memasukkan ke mulutnya dan mengunyahnya penuh ekspresi adalah satu bagian darinya yang paling kusuka. Apalagi yang membahagiakanmu selain melihat orang yang kamu sayangi lahap memakan cake buatanmu?
“Aku rasa aku jatuh cinta,” katanya seraya meletakkan piring itu di atas meja.
Jantungku berdegup keras. Kami saling memandang dalam-dalam. Kemudian ia mendekatkan wajahnya padaku, menyentuhkan bibirnya pada milikku. Kurasakan rasa cheesecake terkecap di bibir itu. Sebentar, lalu ia melepasnya dengan lembut.
“Jatuh cinta pada cheesecake buatanmu.”
Dia tertawa lagi sambil merengkuhku dalam pelukannya. Aku bahagia. « Read the rest of this entry »
Babak Jingga
April 23rd, 2012 § 1 Komentar
Jingga itu memakan segalanya, mengubahnya jadi hitam dan kemudian debu. Dunia seolah runtuh. Telingaku menangkap dentum demi dentum. Pikirku itu mungkin adalah gunung yang meletus, meteorit yang membentur bumi, atau bom atom yang meledak. Aku tidak tertarik, meskipun belum pernah mengalami ini sebelumnya.
Aku terbaring tak bergerak di atas ranjangku. Mengintip langit yang biru kemudian terang dan selanjutnya gelap. Namun duniaku penuh warna karena jingga yang merambah ke mana-mana. Sekarang ia tiba di langit-langitku, rakus memakan putihnya menjadi arang. Gelombang panas ikut hadir. Panas yang menghantarkan jingga. Aku meyakini semua akan berakhir di sini dan aku tahu itu. Panas itu mengangkat kesadaranku lebih dulu sebelum jingga itu tiba di ujung kakiku. Itu lebih baik, setidaknya aku tidak mati dalam kesakitan.
Akan tetapi ini buruk. Jauh lebih buruk dari pada yang pernah kualami.
*
Astronaut
April 9th, 2012 § 2 Komentar
“Halo astronaut.”
Sapaanmu membuatku tersipu sehingga aku duduk sembari menundukkan kepalaku. Tidak sulit menemukan sosokmu di dalam restoran Italia ini, Soriano Tratorria, dengan kulit kecokelatan dan kepala plontos, kamu begitu mudah kukenali. Ketika aku mendongak padamu, aku menemukan senyum khasmu tersungging padaku. Pun aku tak bisa menahan lama-lama untuk tidak tersenyum—nyaris tertawa kecil.
“Jangan panggil aku begitu,” bilangku sambil terkikik pelan, “kamu mengingatkanku kepada kegagalanku, Pencari Partikel.” Kamu memamerkan seringaimu yang membuat barisan gigi rapimu mengintip keluar. Sebelum sempat kamu berkata-kata lagi, aku sudah menyambar kesempatan itu duluan. “Peraturan pertama, jangan berani-berani cerita padaku bagaimana kamu mengunjungi Kennedy Space Center dan menonton peluncuran pesawat ulang-alik Atlantis untuk terakhir kali.”
Senyummu tetap tinggal di bibirmu ketika dengan mudahnya kamu mengiyakan permintaanku.
“Oke. Apa kabar?” « Read the rest of this entry »







